Big Thing From Small Idea
The Idea
By Sydney Milucky, 13 tahun
Mendapat sebuah gagasan rasanya seperti menduduki sebuah paku. Itu akan membuatmu meloncat bangun dan melakukan sesuatu.
Ketika kita duduk di kelas lima, kita merasa telah mengetahui dan terlibat dengan dunia ini. Dunia bagi kita adalah teman-teman, permainan, atau semua halo yang menarik perhatian kita.
Lalu guru kelas limaku berpikir kami harus lebih mengetahui keadaan di luar dunia kami. Maka setiap minggu, kami membaca artikel-artikel dari Koran tentang segala yang terjadi di seluruh dunia. Kebanyakan artikel memang menarik, tapi tida berarti apa-apa bagiku. Sampai akhirnya aku membaca berita tentang Afganistan dimana pemerintahan Taliban tidak memperbolehkan anak-anak perempuan bersekolah. Ketika Taliban kehilangan kekuasaan, anak-anak perempuan itu akan dapat dapat bersekolah seperti anak laki-laki. Tapi tetap saja mereka tidak boleh berada dalam sekolah yang sama, sehingga pemerintah baru memisahkan sarana sekolah untuk anak perempuan.
Karena negeri itu masih dilanda peperangan dan keadaan di sana sangat buruk, mereka terlalu miskin untuk membuat sarana sekolah baru. Aku tidak habis piker, bagaimana anak-anak perempuan itu akan bersekolah jika pensil, penggaris, kertas, bangku, dan bukupun mereka tidak punya.
Tahun itu juga, sekolah kami mendapat kiriman bangku-bangku baru. Bangku-bangku lama dikeluarkan dan dikumpulkan digudang. Dengan alas an mungkin sekolah membutuhkannya lagi. Tapi biasanya tidak terpakai. Kupikir itu saying sekali. Dari sana aku mendapat gagasan. Jika sekolahku tidak tyerlalu membutuhkan bangku-bangku itu, mengapa tidak mengirimnya saja ke Afganistan?
Ketika kuceritakan gagasanku kepada guruku, ia bilang tidak yakin gagasan itu dapat terlaksana. Bangku-bangku itu sangat berat dan akan membutuhkan banyak biaya untuk mengirimkannya.
Lalu aku menceritakannya pada ibu tiriku tentang bangku-bnagku tua itu dan apa yang kupikir sebaiknya dilakukan dengan benda-benda itu. Ia suka gagasan itu. Memang butuh usaha keras untuk mengirim bangku-bnagku melewati separoh dunia tapi ia percaya dengan bantuan orang-orang yang tepat, gagasan itu bias terlaksana.
Kami mulai mengirim e-mail kepada organisasi-organisasi kemanusiaan seperti UNICEF yang bergerak dalam bidang hak asasi anak-anak. Kami tahu UNICEF tengah berusaha agar seluruh anak perempuan di dunia ini mengenyam pendidikan. Kami berharap mereka dapat membantu kami. Julie, teman ibu tiriku dan beberapa orang yang bekerja bersamanya mengirim e-mail keperuasahaan-perusahaan jasa pegangkutan dan pengapalan seperti UPS. Berharap mereka bersedia mengirmkan bangku-bangku itu ke afganistan. Bahkna kakak laki-lakiku turut mendukung dan merancang gambar T-Shirt untuk proyek tersebut. Aku menamakan proyek itu “The Idea”.
Sebentar saja, kami telah mendapatkan e-mail balasan dari UNICEF. Mereka menyukai rencanaku, tetapi untuk saat ini masih sangat sulit untuk memasukkan barang ke Afganistan karena perang masih berkecamuk. Tapi mereka bilang akan mencobanya.
Kami juga dihubungi oleh seorang reporter New York Tiomes yang sedang meliput peperangan di Afganistan. Dia mengirim E-mail dan menceritakan keadaan di daerah tujuan bangku-bangku itu. Situasi masih sangat buruk disana. Berta membuatku semakin sedih.. Anak-anak di sana pasti selalu merasa ketakutan.
Setelah yakin UNICEF dan berbagai pihak akan mencoba membantu kami mengirimkan bangku-bangku itu, kami mendatangi kepala sekolahku dan menanyakan apakah bangku-bangku itu dapat disumbangkan demi proyek ini. Ia bilang akan mencobanya. Lalu satu hari kemudian ia memberikan keputusan . Jawabannya adalah ya!
Sebuah perusahaan jasa pengiriman telah setuju meminjamkan peti kemasnya untuk mengapalkan bangku-bnagku itu ke luar negeri. Llu UPS juga setuju meminjamkan sebuah truk mereka untuk mengangkut bangku-bangku tersebut dari sekolah ke pelabuhan. Maka aku, ibu tiriku dan temannya Julie, serta teman-temanku yang lain datang membnatu menaikkan bangku-bnagku ke dalam truk UPS. Agak sulit memasukkan semua bangku itu ke dalam truk, tapi akhirnya bisa juga. Bagian paling menyenangkan adalah ikut dalam perjalanan truk tersebut ke pelabuhan. Sesampainya di sana, kmai menurunkan semua bangku dan memasukkannya ke dalam peti kemas yang akan membawany ke Afganistan. Sungguh pekerjaan yang melelahkan. Kami semua kelelahan malam itu tapi hati kami benar-benar puas.
Lalu kami diberitahu bahwa bangku-bangku itu akan berada dalam peti kemas selama beberapa minggu. UNICEF masih belum dapat memasuki daerah Afganistan karena perang.
Sementara kami menunggu berita dari UNICEF, seseorang memberitahu kami tentang bangku-bnagku yang ditumpuk digudang sebuah perguruan tinggi dekt sekolahku. Kami menanyakan kepada pihak perguruan tinggi tersebut, apakah mereka bersedia menyumbangkannya. Ternyata mereka setuju. Maka kami memberitahukan kabar ini ke UNICEF. Setelah itu kami juga mendengar kabar bahwa sekolah-sekolah di Haiti dan Jamaica membutuhkan bangku belajar. Maka lima puluh buah bangku dikirim untuk mereka. Aku sangat senang karena akhirnya berhasil membantu oranglain.
Lama setelah pengiriman bangku yang pertama, akhirnya UNICEF menelepon dan mengabarkan seratus buah bangku yang kami sumbangkan telah tiba di Afganistan. Berjuta rasa tak terlukiskan saat mendengar usaha kami telah berhasil. Usaha yang sebelumnya diragukan banyak orang.
Tiba-tiba saja, aku dibanjiri telepon dari organisasi-organisasi kemanusiaan yang ingin memberikupenghargaa atas apa yang telah aku lakukan untuk anak-anak Aganistan tersebut. Aku dinominasikan untuk menerima Clara Barton Red Cross Award dan dia nugerahi Humanitarian Award dari Pop Warner Football League!. Aku menerima kiriman sebuah lukisan dari keluarga-keluarga yang telah kubantu di Jamaica. Bahkan presiden Amerika Serikat, George Bush, mengirimkan Student Service Award bersama sebuah pin dan surat yang berisis pernyataan bangga atas proyekku.
Menerima semua penghargaan itu meman sangat menyenangkan. Tapi bagiku, bagian terbaik adalah membayangkan wajah gembira anak-anak perempuan Afganistan saat melihat bangku sumbangan kami dan duduk belajar diatasnya. Impianku yang menjai kenyataan memancing keinginanku yang lain. Suatu saat nanti, aku berharap dapat pergi ke Afganistan, bertemu dengan anak-anak perempuan yang telah kubantu. Aku harus menabung dulu sebnayak-banyaknya untuk melakukan itu. Tapi sepertinya cukup pantas bila nantinya aku dapat melihat senyuman di wajah mereka.written from Chicken Soup For Pre Teen
